Sahabat

friendship013-300x285Hari ini, aku berbicara dengan seseorang tentang sahabat. Dia menceritakan kalau sekarang dia sedang ada sedikit masalah dengan sahabatnya itu. Mereka belum genap 2 tahun bersahabat, walaupun mungkin mereka telah cukup lama saling kenal satu dengan lainnya. Cerita dimulai ketika salah satu di antara mereka merasa bahwa dia dicuekin dari sahabatnya. Dia tidak tahu dan tidak mengerti mengapa sahabatnya itu bersikap demikian terhadapnya. Keadaan makin rumit ketika dia merasa gengsi untuk bertanya terlebih dahulu. Dan dia merasa bahwa sahabatnya ini hanya bersikap demikian pada dirinya saja, hal yang sama tidak terjadi bila sahabatnya ini berhubungan dengan teman yang lain.

Yang mungkin tidak dia sadari adalah mungkin sahabatnya juga merasakan hal yang sama. Gengsi untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan. Mungkin juga sahabatnya begitu ingin berteriak untuk menyerukan isi hatinya. Kalau dia juga takut kehilangan sahabat yang sudah dekat hingga saat ini. Tapi walaupun hati yang berteriak sedemikian keras, tidak akan ada yang mendengar, jika tidak ada yang memulai untuk berbicara tentang masalah yang mereka hadapi.

Aku mencoba mengingat apakah hal yang sama juga pernah aku alami. Aku termasuk orang yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain, mungkin saja aku pernah mengalami masa-masa di mana aku juga tidak mau berbicara dengan sahabatku tentang suatu masalah. Aku memiliki beberapa sahabat dan sejauh yang aku ingat… Hmmm… seingatku jarang aku perang dingin dengan mereka, karena kebanyakan aku diomelin duluan, hahahaha

Beneran… Mereka cerewet sekali… Aku sampai nggak bisa bales kalau mereka dah ngomong gitu. Sering aku meragukan nasihat mereka, karena terlalu memikirkan diri sendiri. Tapi pada akhirnya aku tahu, yang mereka lakukan demi kebaikanku sendiri. Mereka melihat lebih baik, karena pada waktu itu mataku kayanya kabur :D. Dan aku lebih bersyukur lagi bahwa mereka mengatakannya, kalau saja mereka tidak mengatakannya, bisa saja aku akan mengalami hal yang lebih sakit dari itu.

Berbicara tentang sakit hati, aku jadi ingat ketika paduan suara kami waktu akan pergi perlombaan. Kami dikumpulkan dalam satu tempat di mana kami bisa menumpahkan uneg-uneg dan aku menerima paling banyak kritik karena sudah membuat sakit hati anggota lainnya. Dan aku membuat itu sebagai suatu koreksi buat diri sendiri. Sakit hati memang seharusnya diungkapkan, agar keduabelah pihak saling mengerti satu dengan yang lain.

Begitupun dengan persahabatan. Persahabatan bukan terjadi karena sahabat kita membalas kita sama banyak dengan yang mereka berikan. Bila saling membalas sama banyak, yang kita lakukan bukanlah bersahabat, tapi berdagang. Persahabatan terjadi saat kita memberikan kasih terlebih dahulu kepada sahabat kita, tanpa mengharapkan bahwa mereka akan melakukan hal yang sama pada kita.

Kita juga tidak bisa menjadi sahabat yang baik dengan hanya mengedepankan gengsi. Kerendahan hati menjadi kunci untuk memulai persahabatan. Tidak mungkin memulai persahabatan bila kita gengsi untuk menyapa orang lain terlebih dahulu atau mengharapkan mereka akan menyapa duluan.

Komunikasi juga sangat penting dalam persahabatan. Sahabat kita tidak semuanya adalah tukang sulap yang bisa membaca pikiran. Bila ada yang mengganjal atau bermasalah dengan mereka, bicarakanlah. Kalau kita mendiamkan, makin lama masalah akan semakin menumpuk dan akan semakin parah.

Perbedaan bukan suatu alasan persahabatan terjadi. Dengan perbedaan, kita diajarkan untuk rendah hati, menerima satu dengan yang lain, mengerti dan belajar satu dengan yang lain. Persahabatan jadi lebih berarti jika kita bisa menghargai perbedaan dan tidak memaksa orang lain agar sama dengan kita. Kita sendiri pada dasarnya bukan buatan pabrik.

Dan sepertinya aku kehabisan kata-kata.. Jadi aku akan membuat kita pusing sejenak dengan menanyakan hal ini :

  • Apakah aku memiliki sahabat-sahabat?
  • Bagaimana aku tahu bahwa mereka adalah sahabatku?
  • Apakah kami sering bertengkar mengenai perbedaan pendapat atau sifat?
  • Seberapa besar aku bisa menerima perbedaan yang ada pada sahabatku?
  • Apakah aku sering memaksa sahabat agar menjadi sesuatu dengan yang aku inginkan?
  • Seberapa besar kasih yang aku berikan untuk sahabatku?
  • Apa yang akan aku lakukan bila terjadi kesalahpahaman pada kami?
  • Apa yang akan aku lakukan bila sahabatku mengalami masalah?
  • Apakah aku sudah memperlakukan sahabatku sebagaimana seharusnya seorang sahabat?
  • Apa yang akan aku lakukan bila sahabatku melakukan hal yang salah?
  • Apa yang akan aku lakukan agar aku tidak kehilangan sahabat?
Advertisements

Published by

yonatha

I am a newbie blogger wannabe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s