Manado, mimpi yang menjadi nyata (Bagian awal)

Aku tidak terlalu sering bepergian. Aku lebih suka di rumah, tenang, nyaman, teduh ada lemari es… Ditambah lagi kalau harus bepergian sendirian… Sama sekali tidak menarik. Tapi kalau bepergian dengan teman-teman, entah mengapa aku jadi bersemangat. Beberapa kali aku berkesempatan untuk bepergian dalam rombongan ke beberapa tempat. Salah satu yang berkesan adalah ketika kami bepergian ke Manado. Hal ini kualami pada 2006.217631_1081182067572_3615171_nAku akan mencoba membongkar apa saja yang kuingat. Dan sepertinya tulisan ini akan sangat panjang… Aku harap ada yang masih tahan membacanya sampai habis…

Pada saat itu kami tidak hanya plesir ke Manado, tapi tujuan lainnnya adalah karena kami ikut serta sebagai peserta kompetisi paduan suara. Ada sekitar 30 orang dalam rombongan. Untuk ke Manado, dibutuhkan dana yang tidak sedikit, untuk 1 orang saja membutuhkan sekitar 3 Juta-an; Pulang-pergi pada waktu itu dan dengan 30 orang berarti perlu 30 x 3 juta… berarti sekitar hmmm… banyaklah… Bukan hanya tiket, kami juga membutuhkan dana untuk keperluan lain, sebelum dan selama di Manado. Selain dana, kami juga dihadapi oleh rintangan-rintangan yang tidak mudah, bahkan membuat kami sempat membatalkan niat untuk ikut kompetisi itu. Aaarrgghh…. harus mulai dari mana ini @-@…. Mungkin dari awal saja..

Karena suatu hal yang tidak disengaja, aku bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) di kampusku. Salah satu kegiatan yang kami ikuti adalah kompetisi paduan suara dan pada tahun 2006 kompetisi ini diadakan di Manado. Berdasarkan peraturan, setiap kontingen terdiri dari paduan suara dengan minimal 25 orang; maksimal 30 orang, tidak termasuk pelatih, official, dirigen, pemain musik. dan penyanyi cadangan. Pada saat itu paduan suara kami bisa dikatakan tidak berada dalam keadaan yang ideal. Sebagian besar anggota adalah anggota senior yang telah memiliki pengalaman pada kompetisi sebelumnya dan sebagian dari mereka telah lulus, sementara hanya sedikit dari anggota baru yang bergabung pada saat itu. Dengan mempertimbangkan beberapa hal seperti kualitas dan kuantitas anggota yang akan ikut serta pada kompetisi ini, maka diadakanlah audisi terbuka. Dan dari audisi ini yang lolos sekitar 30 orang, beruntung aku bisa terpilih dan mendapatkan 1 tempat untuk ikut kompetisi ini. Masalah jumlah anggota tim bisa dikatakan sudah selesai saat itu.

Namun ada satu kabar duka yang datang. Salah satu mahasiswa yang lolos audisi hilang terbawa ombak ketika berwisata ke pantai. Kejadian ini sangat memukul kami, terutama teman-teman kami dari fakultas yang sama dengannya. Aku masih ingat dengan jelas, lagu yang dinyanyikannya pada saat audisi adalah “You raise me up” Josh Groban. Bakat menyanyinya pun besar, jauh lebih besar dari aku. Aku harus akui kalau aku adalah anggota dengan kategori biasa-biasa saja.

Hal berikutnya harus kami pikirkan adalah mencari dana.Mengumpulkan dana kurang lebih 120 juta adalah hal yang sangat sulit bagi kami yang saat itu adalah mahasiswa. Kami tidak bisa hanya mengharapkan kampus yang pada saat itu hanya dapat menganggarkan dana sekitar 25% saja. Ketika kami mendengar bahwa paduan suara dari kampus lain, di kota yang sama dengan kampus kami, 100% ditanggung kampus, kami menjadi agak iri. Tapi syukur pada Tuhan, kami harus mencari sisa keperluan dana ini sendiri. Karena dari sini juga kekompakan dan kesatuan hati kami sebagai tim dibentuk.

Oh iya, aku lupa menyebutkan bahwa kami juga masih memiliki kewajiban untuk mengembalikan uang kampus yang dipinjam pada saat senior kami berkompetisi 2 tahun sebelumnya. Bisa dibayangkan betapa pusingnya pengurus pada saat itu. Anggota senior berprestasi luar biasa pada kompetisi yang lalu, tapi dibalik itu semua, ada cerita kerja keras yang harus kami tanggung bersama. Agak lucu mendengarnya, setelah mereka berprestasi dan mengharumkan nama universitas, salah satu yang diberikan kampus adalah kewajiban membayar pinjaman… Konyol… Aku tahu betul, karena pada saat itu, aku dengan sedikit dipaksa menjadi bendahara PSM.

Kembali pada urusan mencari dana, selain sebagai bendahara PSM, aku menjadi koordinator seksi dana. Aku dengan gigih menolaknya pada saat pembentukan tim, berhubung Indonesia adalah negara demokrasi, 29 ya vs. 1 tidak, akupun menjadi koordinator seksi dana. Idealnya, ketika ikut dalam suatu kompetisi, tim pencari dana dan tim yang akan ikut berkompetisi adalah 2 tim yang berbeda. Sehingga tim yang pertama akan fokus untuk memikirkan dana dan tim yang lain hanya berkonsentrasi pada persiapan lomba. Tapi itu tidak berlaku bagi kami. Hal yang kami lakukan tiap hari adalah : Siang mencari dana, malam latihan untuk persiapan lomba. Belum lagi sebagai mahasiswa dan bertanggung jawab pada orang tua, kuliah adalah prioritas utama. Kami harus pintar-pintar membagi waktu dan menjaga kesehatan.

216831_1081181867567_1688424_nSemua hal kami lakukan hanya untuk mendapatkan uang. Kaos, barang bekas, baju pantas pakai, koran, aksesoris (bener ga sih nulisnya?) adalah barang-barang yang kami jual demi mencapai 120 juta-an. Ditambah juga mengamen di beberapa tempat, mempersiapkan konser dan membuat proposal untuk diedarkan ke luar. Belum lagi bangun dini hari untuk menjual baju pantas pakai ke pasar, yang pembelinya menawarkan dengan harga fantastis…Rp.1.000,- sampai dengan Rp.2.000,- rupiah perpotong… Hasil yang didapat memang termasuk sedikit. Dan bisa dikatakan aku tidak begitu berhasil sebagai seksi dana. Tuh kan.. sudah dibilangin juga… Pelajaran yang kuambil : Bisnis dan kerja keras adalah 2 hal yang berbeda, tetapi harus dijalankan bersama jika ingin berhasil.

Pada saat kami berusaha sedang giat-giatnya berlatih dan mencari dana, terjadilah satu peristiwa yang mengubah jalan cerita perjalanan PSM kami ke Manado seluruhnya. Gempa besar terjadi dan meluluhlantakkan kota kami. Sabtu pagi, Pukul 06:00; di saat orang-orang baru selesai menonton siaran sepakbola dan aku sebagai mahasiswa yang berkesempatan untuk bangun agak siang di hari Sabtu, sedang tertidur, gempa itu terjadi. Dalam keadaan setengah sadar ditengah goncangan, aku mendengar orang berteriak panik, “Gempa!Gempa!”. Beberapa saat aku coba untuk menangkap dan mengintepretasikan kalimat itu. Setelah agak sadar, aku langsung berlari keluar. Sempat bingung, apakah aku harus ke depan yang pintunya di tutup ato belakang. Yang aku ingat, kaca berderak-derak, serpihan platform mulai jatuh, dinding bagian depan rumah kontrakan kami retak-retak dan mau rubuh. Aku berlari ke luar melalui pintu belakang. Masyarakat sekitar sudah ramai di jalan, ketakutan sambil menyebut Nama Tuhan. Tiang listrik bergoyang seperti garpu tala. Aku sempat berpikir kalau-kalau tanah yang kami injak terbelah. Aku tidak mau mengalami hal seperti itu untuk ke-2 kalinya…

Belum lama setelah gempa reda, tiba-tiba begitu banyak motor dan orang yang berlari dari arah selatan sambil berteriak “Tsunami!” Satu kata yang sanggup membuat kami yang masih shock dengan gempa kehilangan kemampuan untuk menganalisa lebih lanjut. Kepanikan massal terjadi di kota kami. Orang-orang berduyun-duyun, ramai luar biasa pergi ke gerbang istana, berharap jika tsunami terjadi mereka tidak akan terkena air bah. Cerita lucu pada saat itu adalah ketika temanku melihat seorang bapak yang tampak masa bodo dan pasrah dengan tsunami. Dia merasa sudah aman dengan menggunakan ban yang melingkar di perutnya sambil merokok dengan santai. Toh kalaupun tsunami datang dia bakal tetap terapung. Tapi Tuhan begitu besar, Tsunami yang dikhawatirkan itu tidak terjadi.

216023_1081186587685_4505677_nSetelah mengalami gempa itu, hal yang pertama aku pikirkan adalah bagaimana menjaga diri sendiri. Kami sekeluarga tidak berani masuk ke dalam rumah dan membuat tenda darurat. Gempa susulan masih akan sering terjadi hingga beberapa hari ke depan. Jadi pada saat itu aku dan beberapa teman menginap dan tinggal sementara di rumah kakak tingkatku yang ada di daerah yang lebih jauh dari tempat pusat gempa dan lebih aman. Selama seminggu setelah gempa, kami menjadian sukarelawan di salah satu rumah sakit. Pertama kalinya aku melihat ambulan datang terus menerus dengan korban gempa di dalamnya. Rumah sakit penuh, tidak ada kamar lagi. Sehingga mau tidak mau, pasien yang datang ditempatkan di koridor-koridor. Beberapa pasien tampak tidak ada anggota keluarganya yang menemani. Ada yang hanya hidup sendiri, ada yang terpisah dari keluarganya setelah gempa. Yang aku lakukan di sana adalah mengangkat pasien dan membantu perawat.

Kami juga sempat melihat keadaan sehabis gempa… Aku bahkan tidak punya kata yang bisa menggambarkan bagaimana perasaanku ketika melihat kota saat itu. Kota wisata yang pada hari normal ramai wisatawan, pada hari itu sepi luar biasa. Di jalanan hanya ada 1-2 kendaraan yang lewat. Jika malam tiba, tidak ada lampu karena listrik dipadamkan. Kota yang ramai ini seakan menjadi redup sinarnya. Reruntuhan di mana-mana. Atap atrium mall yang baru dibangun ambruk, gedung-gedung retak dan beberapa bagian lantainya hampir terbelah.Tidak terkecuali kampus kami. Ketika aku masuk ke dalam sekretariat PSM yang pada saat itu ada di basement, yang aku lihat pertama adalah retakan besar dan air masuk melalui celahnya. Semua barang yang hendak kami jual dan letakkan di sana basah. Kami seakan dihantam kenyataan bahwa kerja keras kami sampai saat itu sia-sia.

Seminggu setelah gempa, tim kami berkumpul untuk membicarakan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Dengan keadaan sekarang, hampir mustahil kalau kita tetap nekat berangkat. Dana masih banyak yang belum terkumpul, barang yang hendak kami jual rusak dan sebagian anggota mengungsi ke kota lain. Kampus pasti butuh banyak dana untuk memperbaiki kerusakan, orang lain pasti masih sibuk membenahi rumah mereka dan menata kembali kehidupannya. Bahkan PSM yang kampusnya menyediakan 100% dana untuk kompetisi membatalkan niatnya untuk berangkat. Hanya orang gila,nekat dan keras kepala yang masih ngotot mau berangkat. Setelah membicarakannya, dengan sangat berat karena mengingat kerja keras kami selama itu,  kami  memutuskan bahwa kami membatalkan niat kami untuk berangkat kompetisi. Tetapi kami tetap akan mengadakan konser. Akupun memutuskan pulang ke kampung halaman sementara waktu karena kebetulan sedang libur semester. Dan begitulah, tim kami bubar dan aku pulang ke kampung halaman… The End….?

Advertisements

Published by

yonatha

I am a newbie blogger wannabe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s