Manado, mimpi yang menjadi nyata (Bagian akhir)

Ini merupakan bagian lanjutan dari judul yang sama sebelumnya. Tampaknya aku menulis terlalu banyak di sini….Layaknya jalan cerita pada film-film paduan suara sejenis, cerita ini tidak berakhir ketika kami memutuskan untuk berhenti. Plot yang biasanya adalah film paduan suara adalah : paduan suaranya berjuang untuk mencapai sesuatu, masalah besar terjadi, mereka hampir bubar, mereka bangkit, berjuang lagi dan berhasil mencapai tujuan. Plot ini terjadi pada kami dalam kehidupan nyata. Aku sedang bersantai pada suatu sore hari. Telepon berbunyi, dari sahabatku. Kabar yang diberikan benar-benar membuat aku kaget bercampur senang. Beberapa hari setelah aku kembali ke kampung halaman, anggota yang masih tinggal ternyata kembali berkumpul untuk membicarakan tentang kompetisi ini. Mereka tetap bertekad untuk ikut serta dalam kompetisi itu dengan segala konsekuensi yang harus ditanggung. Mereka benar-benar orang gila, nekat dan keras kepala, tetapi aku dengan senang hati akan menjadi orang gila, nekat dan keras kepala bersama mereka untuk mencapai mimpi kami.

Aku kembali bersemangat, karena pada saat itu sebenarnya aku belum siap untuk menyerah. Dan suatu kehormatan buat aku kalau aku kembali diberi kepercayaan untuk kembali bergabung. Yang aku lakukan berikutnya adalah menyiapkan diri untuk konser dan lomba, selama menunggu berangkat kembali ke kampus kami.

Setelah kembali aku tidak lagi menjadi seksi dana, setelah tim dibentuk ulang, aku menjadi seksi perlengkapan. Aku lebih suka dengan posisi baru ini. Dengan semangat dan keterbatasan, kami berjuang untuk mengumpulkan setiap rupiah, karena waktu kompetisi semakin dekat. Tim kami yang semula 30 orang penyanyi, menyusut menjadi 25 orang penyanyi, tanpa cadangan. Artinya, jika anggota kami sakit atau berhalangan ketika kompetisi,kami tidak memiliki pengganti, sehingga akan didiskualifikasi. Kami hanya memiliki satu kesempatan, tanpa memiliki rencana cadangan sama sekali. Mengerahkan semua yang kami punya adalah satu-satunya yang kami punya pada saat itu.

Di 216727_1081179587510_6500900_ntengah semangat mengumpulkan dana dan kembali berlatih, muncul masalah lain yang lebih pelik dari dua masalah itu. Sadar atau tidak sadar, aku merasa bahwa tim kami terjadi perang dingin antar individu. Yang membuat keadaan buruk adalah ketika beberapa anggota tampak memihak pada salah satu pihak. Aku sendiri tidak mau terlibat, aku tidak mau membuat keadaan bertambah ribet. Puncak dari perang dingin ini adalah pada suatu malam setelah latihan, entah bagaimana kami memulai sesi sharing. Pada sesi ini anggota kami membahas tentang keadaan ini. Karena mau tidak mau, hal ini harus diselesaikan, demi keutuhan tim. Masing-masing pihak menyatakan hal yang mengganjal. Ini hal yang baik. Tetapi hal yang aku rasa tidak baik adalah ketika orang lain turut campur dalam hal menyelesaikan hal, yang dalam pandanganku adalah pada dasarnya masalah individu. Aku merasakan salah satu pihak dihakimi secara tidak adil, hampir semua orang menyalahkannya dan membuatnya tersudut. Menurutku hal ini harus dilihat dari dua sisi, masing-masing pihak harus introspeksi.

Selain itu dibahas juga masalah yang hampir sama, tapi yang terjadi pada 2 anggota yang lain. Pertengkaran mereka juga dinyatakan dalam keadaan yang lebih terbuka. Pada malam itu, kami mencoba menyelesaikan semua masalah personal yang ada. Dan jelas, tidak mudah menyelesaikannya. Bisa saja pada akhir sesi semua orang tersenyum dan bersalaman, tapi di dalam, mereka belum bisa menerimanya. Yang aku takutkan terjadi. Sesaat setelah itu, tampak sekali beberapa anggota tampak siap untuk meninggalkan tim. Dan kembali masalah besar menanti.. kami tidak memiliki waktu lagi untuk mencari anggota baru. Tim yang ada sekarang mau atau tidak mau harus bersiap.

Aku mencoba mendekati anggota yang hendak mengundurkan diri. Aku memang lebih muda dari mereka, membujuk mereka bukanlah perkara yang mudah. Jadi aku hanya memberikan semangat dan dorongan supaya mereka tidak keluar. Kami hanya tinggal sedikit lagi mencapai tujuan kami. Sayang sekali jika ini berhenti sampai di sini. Setelah usaha yang tidak mudah, akhirnya tim kami bersatu kembali. Dengan mengesampingkan ego masing-masing, yang ada dalam pikiran dan hati kami semua pada saat itu adalah konser dan Manado. Setelah berjuang, jatuh dan bangun, usaha kami membuahkan hasil. Walaupun harus latihan sampai hampir larut malam dalam keletihan kami, kami berhasil mengumpulkan dana dan menyiapkan diri untuk konser dan untuk berangkat kompetisi.

Konser 2006 adalah konser pertama yang aku alami. Konser yang semulanya adalah konser pamit berubah konsep menjadi Amal dan Pamit. Setelah gempa, kami mencoba untuk membuat konser di dalam keprihatinan yang sedang kami alami. Kami mencoba untuk memberikan sedikit penghiburan untuk kota kami. Baju yang kami pakai adalah hitam-hitam. Konser yang diberikan tema “God Will Make A Way” merupakan cerminan bagaimana Tuhan secara luar biasa membuat keajaiban dalam segala keterbatasan dan rintangan yang kami alami. Kekurangan dana, kekurangan anggota, gempa, perpecahan dan kebimbangan telah kami lewati bersama. Jika memang keajaiban ada, aku pikir aku telah mengalami salah satunya pada saat itu.

Pada konser itu, aku merasakan bahwa kami mempertunjukan sesuatu yang berbeda dari yang kami latih. Kami merasakan masing-masing lagu yang kami nyanyikan dan menghayatinya. Hal itu memberikan perbedaan besar, bagi kami dan pendengar. Ada satu lagu yang kami dedikasikan kepada salah satu anggota tim kami yang menjadi korban gempa, yang aku tahu lagu ini adalah salah satu lagu favoritnya. Pada waktu hampir semua anggota menitikkan air mata ketika menyanyikannya.

Tidak hanya lagu yang bernuansa melankolis, kami juga menampilkan lagu-lagu yang lebih gembira, dengan beberapa lagu etnik di dalamnya. Keadaan menjadi lebih gembira. Pada akhirnya kami benar-benar puas dengan konser ini. Ini adalah konser paling berkesan dan tidak akan aku lupakan. Dua hari setelah konser, kami siap berangkat ke Manado. Yup, karena keajaibanlah kami berhasil mengumpulkan dana untuk berangkat. Akomodasi di sana akan ditanggung panitia

208272_1081184547634_2787895_nAku sangat antusias pada saat itu. Inilah saat yang kami impikan. Pada majalah di pesawat ada satu artikel yang menulis tentang Manado dan itu membuat aku tidak sabar untuk segera sampai di sana. Sebagian dari bandara masih ditutup terpal karena sedang diperbaiki setelah gempa. Kami berangkat pada siang hari, dengan bekal nasi sup dan telur yang kami beli di warung makan dekat kampus, kami meninggalkan kota kami. Pesawat juga mesti transit di bandara Sepinggan, Balikpapan. Bandaranya terletak di dekat laut, tetapi kami tidak lama di sana, karena pesawat hendak berangkat. Lagi-lagi terjadi insiden. Kami membawa beberapa t-shirt yang akan kami jual di Manado, untuk tiket pulang kami… ya untuk tiket pulang kami. t-shirt ini tidak kami letakkan di bagasi, tetapi kami bawa. Pada saat itu anggota yang bertanggung jawab pada t-shirt itu lupa membawanya, sehingga tertinggal di Sepinggan… ya.. tertinggal… uang tiket pulang kami…

Kami baru sadar bahwa t-shirt tertinggal ketika tiba di Manado. Setengah bingung, official kami mencoba menghubungi bandara Sepinggan dan ternyata t-shirt itu sudah di temukan petugas bandara dan akan dikirimkan ke kami… Lega… uang tiketnya kembali…

Kami tiba sekitar jam 9 malam. Ada 2 orang Liaison Officer (LO) yang menjemput kami. 2 bis telah siap untuk membawa kami ke penginapan kami. Keadaan bis sedikit berbeda. Full musik sepanjang jalan. LO mengatakan di Manado tidak ada yang mau naik bis kalau tidak ada musik. Kami dengan segera belajar beberapa kata baru di Manado sepanjang jalan menuju penginapan. Tapi aku lupa apa itu…

207524_1081188387730_4058772_nKami diantar ke gereja yang dekat penginapan kami. Gereja GMIM Pniel Bahu. Kami disambut oleh jemaat setempat dengan ramah dan dengan sup khas Manado. Sup creamy yang dimakan dengan roti, aku juga lupa namanya, tapi sup itu enaakk sekali. Dalam keadaan lapar dan lelah kami makan dengan lahap. Setelah itu kami dibagi dalam beberapa kelompok, tiap kelompok akan tinggal di rumah penduduk sekitar gereja. Aku bersama 4 orang anggota dan 1 LO tinggal di suatu rumah yang ada di bagian belakang gereja, 5 menit berjalan kaki. Malam itu dengan segera kami habiskan dengan tidur.

Hari berikutnya aku bersama teman yang tinggal di rumah yang sama pergi berkeliling ke tempat tinggal anggota lain. Suasana di Manado sangat menyenangkan. Dekat pantai dan hangat. Pada suatu pagi kami juga pergi ke pantai Malalayang dengan berjalan kaki. Pada saat itu daerah di sekitar mall Malalayang tengah dibangun. Beberapa ruko yang sudah selesai tampak masih belum ada penghuninya. Di sekitar pantai, kami dapat melihat pelabuhan dan Manado Tua, tempat di mana Bunaken yang terkenal ada.

207036_1081191507808_2262109_nTinggal di Manado membuat berat kami bertambah. Tuan rumah di mana masing-masing kami di tempatkan begitu ramah terhadap kami, yang hanyalah tamu ini. Yang membuat aku agak takut adalah ada beberapa anjing yang dipelihara disana. Dan galaknya minta ampun. Aku tidak berani masuk halaman sendirian saja, menakutkan.. Aku masih ingat ketika LO kami tiba pada malam hari, setelah mengantar anggota kami ke rumah sakit, disambut dengan geraman dan gonggongan. Tapi selain itu, semuanya benar-benar luar biasa. Setiap pagi sarapan kami telah tersedia, ada nasi atau roti, makan siang dan makan malam pun teratur. Kami jarang makan makanan khas Manado di kota kami dan kami begitu bersemangat pada saat makan di sana.

Pembukaan kompetisi ditandai dengan pawai seluruh kontingen. Kami berjalan dari suatu lapangan menuju auditorium Universitas Sam Ratulangi. Sepanjang jalan anak-anak kecil berseru “Mangga! Mangga!” dengan logat Sunda, karena ada anggota yang berpakaian adat Jawa. Kami adalah satu-satunya kami yang mewakili kota kami, sekaligus juga provinsi. Dan kami menunjukkan pada kontingen lain, benar kami terguncang karena gempa, benar kami hampir menyerah, tapi inilah kami, sama dengan kota kami bangkit dari masa-masa buruk kami.

Pada saat uji coba panggung, kami agak terintimidasi dengan paduan suara dari universitas lain, mereka lebih banyak orangnya dan kualitas suaranya lebih dari kami. Lagi-lagi kami hanya tampil dengan segenap kekuatan kecil yang kami miliki, tapi kami tidak peduli. Tujuan utama kami adalah hanya ikut serta walaupun hal yang tidak menyenangkan telah kami alami. Tanpa keinginan untuk mendapat medali sama sekali.

Latihan intensif adalah yang kami lakukan setiap kali. Sarapan, latihan, makan siang, istirahat siang, latihan sore, makan malam dan latihan malam adalah hal yang kami lakukan setiap hari. Kesehatan beberapa anggota menjadi drop. Seperti yang telah aku tulis, kami tidak memiliki pilihan lain, selain tampil walaupun kami sakit atau berhalangan.

Konsep yang ada pada kompetisi ini adalah kompetisi dibagi 2 bagian. Hari pertama adalah semacam penyisihan, hanya tim yang mencapai nilai tertentu dapat lanjut ke final. Puji Tuhan kami lolos. Kami memiliki pilihan pada saat itu.Direktur musik kami mengajukan pilihan apakah kami cukup sampai di sini dan pulang dengan sertifikat atau ke babak final untuk mendapatkan setidaknya medali perunggu. Kami sepakat untuk terus maju. Dengan pilihan yang kami pilih sendiri, motivasi dan semangat kami bertambah. Tidak lupa kami juga menjual t-shirt di sana, kami masih membutuhkan uang untuk tiket pulang :D.

216919_1081181827566_1739793_nPada babak final, aku merasakan perasaan yang luar biasa ketika kami tampil. Kami tampil pada malam hari,hampir dekat dengan urutan terakhir. Dengan beberapa anggota dalam keadaan tidak sehat dan hanya menyisakan tenaga untuk tampil malam itu, kami tampil. Perasaan yang hampir sama ketika kami konser, kami memberikan segala kemampuan dan passion kami pada setiap lagu yang kami berikan. Setelah menyanyi, aku merasa sangat lega, seakan semua beban telah terangkat. Pengalaman berat yang kami lalui terbayar lunas pada malam hari ini. Kami berpelukan dan saling memberi selamat pada anggota tim. Tidak peduli apakah kami akan mendapat medali atau tidak, tidak peduli orang-orang lain yang melihat kami dengan penuh rasa heran, kami puas dengan apa yang telah kami lakukan. Rasa penat, lelah dan sakit yang kami alami seakan hilang pada saat itu.

Setelah lomba, kami mendapatkan lebih banyak waktu luang. Kami pergi ke pantai lagi, dan ketika di ATM, kartu ATM-ku tertelan…. Tertelan di ATM di bukan kota asalku. Beruntung LO kami begitu baik, dia membantu aku untuk mendapatkan kartu ATM-ku kembali. BTW, selama kami tinggal bersama, kami menjadi lebih mengenal teman-teman kami. Aku sekamar dengan seorang anak dari fakultas theologi yang sering kali masih menelpon seseorang hingga larut malam. Dan parahnya lagi, mereka juga tahu bahwa aku sering mengigau ketika tidur… Dan aku juga lupa menyebutkan bahwa ada beberapa mahasiswa Manado yang juga tinggal bersama dengan kami, karena rumah tempat kami tinggal adalah sebuah rumah kos-kosan. Mereka sangat baik dan bersahabat. Salah seorang di antara mereka sangat menyukai komputer dan aku mendapatkan copy-an game sebelum aku pergi.

Menjelang hari terakhir kompetisi, semua kontingen diberikan kesempatan untuk pergi ke salah satu tempat wisata, Bunaken atau Bukit Kasih. Kami memilih Bunaken. Kami termasuk kontingen terakhir yang berangkat pada hari Sabtu itu. Setelah menghabiskan waktu foto-foto sambil menunggu, perahu kami-pun siap berangkat. Kami ke sana dengan menggunakan perahu mesin kecil. Aku hampir mabuk laut, jika tidak segera tidur, sesuatu akan keluar dari mulutku. Bunaken adalah taman laut yang terkenal. Jadi pertama, kami harus berlabuh di pulau Bunaken dahulu, sebelum pergi melihat taman laut dengan menggunakan perahu yang lain.

207504_1081193947869_5474772_nSetelah sampai, kami disuguhkan dengan kelapa muda dan pisang goreng plus sambal. Orang Manado senang memakan apa saja dengan sambal. Kami kembali menunggu giliran untuk naik ke perahu untuk melihat taman laut itu. Di tengah perahu ada ruang kosong, seperti kotak dengan semacam plastik bening sehingga kami bisa melihat ke dalam laut dengan jelas. Terumbu karang dan taman laut di Bunaken benar-benar indah, walaupun ada bagian yang rusak. Setelah itu kami menghabiskan waktu di pantai. Kami main air dan anggota yang memilih untuk tetap kering menghabiskan waktu melihat kerajinan tangan di sana. Tetapi itu tidak berlangsung lama, anggota yang main air tampak timbul isengnya. Mereka mulai berlarian dan menyeret mereka yang belum merasakan air laut untuk dilempar ke laut. Aku termasuk salah satu yang mereka kejar. Aku tidak bawa baju ganti dan aku dalam masalah. Akhirnya setelah bosan, aku memilih menyerah dan menjatuhkan diri sendiri ke air pantai. Tanpa baju ganti dan basah kuyup, aku memilih melepas baju daripada masuk angin. Dan bajuku bahkan masih basah ketika kami kembali ke Manado dengan perahu.

206300_1081193427856_1471235_nHari berikutnya, kami diajak jemaat untuk pergi ke Bukit Kasih. Yup, kami satu-satunya kontingen yang dapat bepergian ke kedua tempat wisata itu sekaligus. Jemaat Pniel benar-benar berbaik hati kepada kami dan memperlakukan kami seakan-akan kami adalah saudara jauh mereka. Kami diundang untuk sarapan oleh salah satu jemaat. Makanan yang dihidangkan juga tidak tanggung-tanggung jumlah dan rasanya. Memang pada hari-hari sebelumnya kami juga diajak untuk sarapan tinutuan di Wakeke oleh seorang jemaat yang lain. Tak hanya itu bahkan ketika kami tiba di Bukit Kasih, kebetulan ada kerabat Jemaat gereja yang tinggal di sana, lagi-lagi kami dijamu kembali. Ronde 2 dimulai.

Bukit kasih tampak sangat besar, tinggi dan jauh dari kaki bukitnya. Bau belerang tampak di kaki bukit itu. Dan air di sana ikut mendidih karena belerangnya. Beberapa penjual tampak merebus jagung dan telur dari kolam yang mendidih itu. Yang aku ingin lakukan saat itu adalah mencapai puncak bukit. Untuk mencapainya, ada 2 jalur. Jalur dengan tangga atau melewati jalan setapak di tepi hutan. Untuk jalur naik, aku memilih tangga. Ada ribuan tangga untuk mencapai bukit itu. Aku dan seorang teman sempat berhenti beberapa kali untuk mengambil napas. Baju mulai basah dengan keringat. Setelah cukup lama mendaki tangga, akhirnya sampai juga di puncaknya. Kami bisa melihat Manado dari ketinggian, dengan Bunaken di seberang lautan dan danau Tondano di tengah hijaunya pemandangan.Untuk turun, aku memilih jalur yang lain, lebih mudah dan lebih cepat. Lebih cepat turun daripada naik rupanya.

207328_1081193467857_3351930_nPada perjalanan pulang, ada kejadian lucu. Ada anggota yang meminta supir untuk berhenti dan dia bilang kalau ada temannya yang mabuk. Wajar saja, kami seperti mengitari bukit untuk naik atau turun ke Bukit Kasih. Setelah bus berhenti, orang yang pertama keluar dan muntah adalah anggota yang meminta supir untuk berhenti. BTW, kami disediakan 1 bis khusus untuk kontingen kami selama kami di Manado. Hal yang tidak aku jumpai pada kompetisi yang sama pada kota lain di waktu yang akan datang.

Kami memiliki waktu sebelum hadir dalam penutupan kompetisi pada malam harinya. Kami diantar oleh keluarga anggota kami yang tinggal di Manado ke toko oleh-oleh, dan lagi-lagi pada sore harinya, ronde ke-3 dari jamuan makan. Perutku kenyang luar biasa…Manado benar-benar top…

Pada penutupan kompetisi, sekaligus pengumuman juara, walaupun kami hanya mendapatkan Medali Perak dan peringkat umum ke-4, kami benar-benar bersyukur dan gembira. Kami tidak menyangka bahwa kami telah sampai sejauh ini. Sudah ikut serta dalam kompetisi ini saja sudah merupakan keajaiban, ditambah kami diberikan penghargaan, membuat kebahagiaan yang kami berlipat ganda. Setelah acara penutupan selesai dan kami kembali ke penginapan, kami berkumpul di gereja untuk sebuah acara perpisahan kecil dengan jemaat yang sudah menerima dan melayani kami dengan baik selama kami di Manado. Kami bernyanyi sebagai satu-satunya wujud rasa terima kasih, karena kami tidak akan mampu membalas kebaikan hati mereka. Beberapa anggota tampak tidak bisa menahan airmata ketika kami mengucapkan salam perpisahan. Kami menerima undangan perpisahan lagi. Dengan makanan tentu saja. Karena esok hari kami harus pulang ke kota kami. Ronde ke-4 jamuan makan dimulai. Aku memilih untuk pulang lebih awal dan tidur. aku bukan orang yang kuat untuk begadang. Pada waktu subuh, ketika aku sedang menyiapkan koper untuk pulang, beberapa teman satu penginapan baru pulang. Tampak sebagian dari mereka begadang sambil ngobrol dengan mahasiswa satu penginapan dengan kami.

2569_1036132945776_7800158_nBerpisah dengan jemaat Pniel, khususnya dengan tuan rumah yang menerima kami di rumahnya benar-benar berat. Memang kami hanya tinggal selama 1 minggu, tapi kami mulai merasa begitu dekat dengan mereka. Kami mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada Jemaat, tuan rumah dan LO yang sudah menyambut kami dan melayani kami dengan sangat ramah dan baik sekali selama kami ada di Manado. Dengan pesawat yang uang tiketnya telah tercukupi, pada hari Senin, kami pulang kembali ke kota kami. Semua hal yang telah kami alami untuk mencapai Manado akan tetap ada dalam ingatanku. Aku akan selalu mengenang Manado, sebagai kota di mana mimpi kami menjadi nyata.

Advertisements

Published by

yonatha

I am a newbie blogger wannabe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s