Sebuah pulau bernama Belitung

Ketika aku mengatakan bahwa aku berasal dari Belitung, Kebanyakan jawaban yang aku terima adalah : “Dimana itu?”,”Di Sumatera ya?” atau “Hah?”. Respon positif yang mungkin aku dapatkan adalah : “Yang Laskar Pelangi itu ya?”.  Memang tidak ada yang banyak yang tahu tentang Belitung. Pulau asalku ini baru terkenal saat film yang disadur dari buku “Laskar Pelangi” ditayangkan di bioskop.

Sebelumnya Belitung merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Kemudian terjadi pemekaran daerah pada 2001?, bersama dengan pulau Bangka menjadi provinsi baru, Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Belitung sendiri merupakan pulau yang terpisah dari Bangka. Dikelilingi oleh pantai dan lautan. Pantai yang paling banyak diekspos adalah Pantai Tanjung Tinggi yang menjadi salah satu pantai tempat syuting film “Laskar Pelangi” dan Pantai Tanjung Kelayang, yang tidak begitu jauh dari Tanjung Tinggi. Tentu saja tidak semua Belitung berisikan Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang, walaupun aku suka dengan pantai itu :D, Kali ini aku akan menceritakan sisi lain dari Belitung. BTW, seharusnya tulisan ini sudah selesai Minggu kemarin, tapi sepertinya susah ya kalau menulis nunggu mood itu, hahahaha…

Jalan raya, Kelapa Kampit, Belitung Timur

Kalau aku bandingkan Belitung dengan kota-kota lain yang sudah pernah aku datangi, sepertinya tidak ada perbedaan yang mencolok. Perjalanan dari kota yang satu ke kota yang lain seperti perjalanan antara Jogja-Wates, tentu saja tanpa sawah-sawah dan lalu lintas yang tidak banyak. Kalau kita berangkat pada waktu malam, seperti perjalanan dari Banjarmasin-Palangkaraya, gelap. Di kota-kota kecamatan lampu jalanan memang sudah tersedia, tetapi lain cerita kalau di daerah sekitar perkebunan kelapa sawit atau di dekat hutan, gelap. Belum lagi kalau mati listrik, tambah gelap.

Mati listrik sudah menjadi semacam tradisi mingguan, kalau PLN lagi mood, bisa-bisa tiap hari mati listrik. Tidak kenal waktu lagi.. Subuh, pagi, siang, sore, malam, tengah malam… Seperti minum obat… Tapi ‘kan kalau minum obat terus-terusan minum obat bisa OD… Kalau mati listrik terus-terusan, mungkin bisa OD juga… Masyarakat sudah banyak sekali yang mengeluhkan hal ini, kalau ini Pemilu, sudah pasti Partai Mati Listrik ini akan menjadi public enemy no.1 se-Belitung. Tidak hanya lisan, keluhan ini juga sudah menjadi salah satu status favorit di FB. Dari yang memaki-maki PLN, mengeluh karena usahanya menjadi terganggu, mempertanyakan apa yang dilakukan pegawai PLN, tidak bisa belajar walaupun besoknya UAN, mendoakan PLN tidak masuk surga sampai menggunakan majas ironi, mudah-mudahan PLN diberi Berkah, sehat walafiat, Tidak heran Mati Listrik juga menjadi menu utama ketika Partai Politik berkampanye sebelum Pemilu kemarin.

Jalan raya, Kelapa Kampit, Belitung Timur

Sudahlah, kalau membicarakan mati listrik di sini nggak bakalan selesai-selesai deh… Aku tinggal di kecamatan Kelapa Kampit, nama yang cukup unik. Wilayah yang sudah lebih dari desa, tapi belum bisa disebut kota ini, terletak di jalan antara 2 kota besar, Tanjung Pandan dan Manggar. Dulu banyak kendaraan yang lewat kecamatan kami, tapi semenjak Jalan Tengah diperbaiki, lebih banyak yang memilih jalur itu, karena lebih singkat waktu perjalanannya. Kalau bisa dibandingkan, kecamatan kami hampir mirip dengan daerah sekitar Jalur Pantura. Aku sendiri tinggal di daerah Pasar, Yang pasti disebut begitu karena ada pasar. Hampir semua daerah ini dipenuhi toko-toko. Kebanyakan menjual keperluan sehari-hari, baju, beberapa bengkel dan sejumlah kecil tempat makan. Agak sulit kalau mencari semacam wisata kuliner di sini, karena memang pilihannya memang tidak terlalu banyak. Tapi ga masalah sih buat aku.. kalau aku mau makan di luar aku ga perlu bingung milih-milih. Rumahku berada persis di dekat jalan penghubung antar kota itu, jadi hampir pasti lumayan banyak kendaraan yang lewat, kecuali pada malam hari.

Kota asalku ini (Bolehlah ya aku sebut “kota”) tidak terlalu jauh dengan pantai, sekitar 20 menit menggunakan motor atau sekitar 40 menit dengan sepeda. Cuacanya memang panas setiap hari, tapi kalau hujan, ya lumayan lebat juga. Tidak bisa diprediksi apakah satu hari ini akan panas atau akan hujan. Tapi disitulah menariknya, ketika matahari sangat terik bersinar, tiba-tiba mendung dan hujan. Ketika mau pergi atau ada rencana diluar, hari cerah.

Pantai Sengaran
Pantai Sengaran, Belitung Timur

Pantai merupakan tempat favoritku. Karena sudah banyak sekali yang bercerita tentang pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang, aku akan merekomendasikan pantai yang lain. Pantai yang sebelumnya telah kusinggung, 20 menit dari rumahku, Sengaran. Jika kita menuju ke Sengaran, ada beberapa jalur yang juga menuju pantai-pantai lainnya di dekat sana. Salah satunya Pantai Pering. Jadi tinggal pilih saja mau ke pantai yang mana. Jalan menuju Sengaran harus melewati padang rumput, kulong (danau yang terbentuk dari bekas galian timah), hutan kecil dan kadang kawanan monyet.

20131219_153725
Pantai Sengaran, Belitung Timur

Tanda bahwa kita sudah tiba di Sengaran adalah gerbang yang mulanya dibangun untuk loket masuk dengan tulisan “Pantai Sengaran”. Beberapa waktu lalu di Pantai ini dibangun kamar mandi bilas, tempat berteduh, beberapa tempat duduk dan taman bermain anak. Tapi sayang, beberapa tempat berteduh jatuh akibat ombak ketika air pasang. Yang membuat pantai ini menarik adalah ketika air surut, jarak antara tempat ombak yang mengakibatkan tempat berteduh jatuh tadi dengan ombak sekitar 500 meter, mungkin… Karena aku tidak begitu jago soal hitung jarak… Mungkin sekitar 3-4 menit jalan kaki. Jadi ada tempat kering yang sangat cocok untuk bermain sepak bola, dengan air laut yang belum sempat kering di tengahnya, sehingga mirip dengan danau, karena di bagian selanjutnya juga seperti pada bagian pertama, tanpa air laut, sebelum akhirnya kita dapat merasakan deburan ombak.

Pantai Sengaran, Belitung Timur
Pantai Sengaran, Belitung Timur

Di kiri pantai terdapat hutan bakau, dengan perahu nelayan. Kabarnya ada buaya di sekitar tempat itu. Aku sih tidak mau membuktikan benar atau ga, aku percaya saja. Sekeliling pantai dipenuhi oleh deretan pohon pinus tinggi walaupun angin yang terus menerus menerpanya. Aku biasanya hanya duduk saja sambil melihat pemandangan jika aku di sana. Pantai selalu membuat aku tenang.

Bukit Pangkuan, Kelapa Kampit. Belitung Timur
Bukit Pangkuan, Kelapa Kampit.
Belitung Timur

Tempat lain yang aku baru tahu ada, adalah Bukit Pangkuan. Tempat ini berjarak sekitar 25 menit dari tempatku. Tempatnya terletak di dataran tinggi. Terakhir kali aku ke sana, aku kaget karena jalan menuju ke sana sudah di aspal. Hanya kurang dari 4 bulan saja. Kalau dulu harus melalui tanah merah berkerikil, sekarang cukup melewati aspal baru. Kesan pertama ketika aku melihat Bukit Pangkuan pertama kali adalah Wow… Aku tidak menyangka ada tempat seperti ini di kotaku. Memang tempat ini sepertinya akan dijadikan salah satu tempat wisata di kecamatan kami.

20130928_155230
Bukit Pangkuan, Kelapa Kampit. Belitung Timur

Ada beberapa tempat berteduh yang terbuat dari kayu di antara tangga-tangga untuk naik ke atas. Selain itu ada juga APV, flying fox dan tempat bermain anak juga outbound. Di bagian atas sekali ada tempat perkemahan. Yang paling aku senangi jika aku ke sana adalah ketika duduk di tempat berteduh tadi. Aku bisa melihat Gunung Kik-Karak, gunung yang bisa dilihat dari rumahku, kemudian hutan-hutan yang hijau juga Dam, yang dulu sepertinya dibuat oleh Belanda, yang jika dilihat dari Bukit Pangkuan seperti Mata Biru ditengah hutan. Aku ingat ketika SMP aku nekat ke sana dengan teman-teman, bersepeda untuk melihat dam, kemudian sampai di rumah aku dimarahi. Sampai sekarangpun sepertinya Bukit Pangkuan jadi tempat favorit no.2 untuk duduk dan menikmati pemandangan buatku.

20130928_155236
Bukit Pangkuan, Kelapa Kampit. Belitung Timur

Jangan berharap akan menemukan satupun bioskop, karena tidak ada sama sekali. Tetapi bukan berarti fasilitas di sini tidak lengkap, tentu saja kalau di ukur dengan standar kota kecil. Aku cukup heran juga, karena aku baru tahu kalau di sini sudah banyak sekali hotel, terutama di daerah wisata seperti Tanjung Tinggi. Bahkan katanya tanah di sana hampir semuanya terjual, dan sedang dipersiapkan untuk membangun hotel yang lain.

Jalan penghubung Kelapa Kampit - Tanjung Pandan
Jalan penghubung Kelapa Kampit – Tanjung Pandan
Hutan kecil di antara perkebunan sawit
Hutan kecil di antara perkebunan sawit

Hal lain yang tidak akan ditemukan di tempat lain, sepanjang jalan antar kota, di kiri kanan jalan ada seperti hutan kecil. Mungkin lebih tepat di sebut dengan padang. Juga daerah berawa-rawa. Kalau Belitung ini dilihat dari pesawat, kita bisa melihat Belitung dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Kulong-kulong  terlihat di sana sini, walaupun kelihatan membuat Belitung seperti bolong-bolong, tapi warna airnya bagus sekali. Kadang hijau, kadang biru dan ada yang putih. Jalan-jalan diantara perkebunan sawit sering kali membuat aku berpikir bahwa itu adalah jalan raya. Tapi setelah dilihat-lihat, ternyata bukan. Karena warna tanahnya yang kuning. Jalan raya sendiri agak sulit dilihat karena tertutup hutan.

Di atas bukit, di tengah Padang Rumput
Di atas bukit, di tengah Padang Rumput

Sehari setelah sampai kembali, aku pergi ke perkebunan sawit milik om, gak besar sih. Untuk sampai ke sana membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Bagi penggemar off-road, jalan menuju ke sana merupakan tempat yang tepat untuk menjajal kemampuan. Dengan catatan menggunakan motor bebek biasa. Jika tidak terbiasa, jatuh merupakan konsekuensi yang wajar. Aku sudah membuktikan. Baru pertama kali aku jatuh ketika naik motor. Jika tidak tepat untuk mengerem, roda jadi susah dikendalikan, karena kerikil-kerikil. Apalagi jika melewati daerah berpasir… susah… Oh ya, untuk mencapai kebun om, aku harus melalui deretan perkebunan sawit. Pepohonan sawit milik perkebunan ini paling tidak tingginya minimal 6 meter. Sehingga bisa dibilang seperti hutan sawit, hanya saja pohonnya ditanam dengan teratur.

 

Di atas bukit, di tengah Padang Rumput
Di atas bukit, di tengah Padang Rumput

Ketika aku melihat kebun om untuk pertama kali, aku sangat terkesan. Daerahnya terletak di belakang bukit kecil. Hijau. Rerumputan khas padang rumput tampak subur di sana. Hal pertama yang aku lakukan adalah pergi ke atas bukit itu. Aku bisa melihat perkebunan sawit, hutan di pinggir-pinggirnya. Batu di atas bukit itu seperti terbuat dari besi karatan. Dan aku juga menemukan pecahan seperti keramik, tetapi seperti dibuat dari tanah liat. Aku sempat berpikir, orang mana yang iseng memecahkan keramik ini di atas bukit yang jauh dari pemukiman. Entahlah, keramik itu sepeti benar-benar cukup lama di sana. Satu hal yang aku sadari ketika aku berada di sana, di tengah luasnya padang rumput dan bukit, aku merasa bahwa aku begitu kecil. Dan aku sepertinya tidak memperhatikan sekitarku selama aku berada di luar Belitung. Di sana aku mendapatkan waktu untuk diri sendiri merenung dan  berhenti sejenak dari hal-hal yang membuat aku tidak mempedulikan sekitar.

Dari atas menara. antara Buding-Air Batu
Dari atas menara. antara desa Buding-Air Batu

BTW, ada beberapa foto  yang diambil dari atas menara antara desa Buding dan Air-Batu. Menara itu digunakan untuk menara pengawas ketika diadakan latihan militer Angkatan Udara sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu. Ada semacam podium raksasa dan beberapa Helipad. Kami naik ke sana ketika dalam perjalanan pulang. Tentu saja ada gembok di pintu masuk menara, tapi tidak dikunci. Dari atas kita bisa melihat, Perkebunan sawit yang luas, hutan-hutan kecil, padang rumput dan Gunung Tajam. That was fun :D.

 

Gunung Tajam dilihat dari  atas menara
Gunung Tajam dilihat dari atas menara

Untuk menuliskan semua kesanku tentang Belitung, aku rasa bahkan kata-kata yang aku tuliskan tidak akan cukup untuk menggambarkannya. Masih banyak cerita-cerita dari pulau asalku, kebanggaanku. Jika saja aku diberikan pilihan dimana aku akan dilahirkan, aku tetap akan memilih pulau ini, di tempat asalku. Mungkin memang tidak ada bioskop atau mall mewah, tidak ada universitas, harga barang sedikit agak mahal, infrastruktur belum lengkap, bank yang tersedia juga terbatas, perusahaan-perusahaan sedang berkembang, tapi keramahan dan penerimaan yang aku dapatkan dari Belitung tidak tergantikan. Jika ada yang aku ingin lakukan sekarang adalah, memberikan semua yang aku dapatkan untuk Belitung, walaupun aku masih tidak tahu bagaimana caranya. Dan untuk semua yang membaca ini, aku katakan “Datanglah ke sini dan alamilah Belitung”.

 

Advertisements

Published by

yonatha

I am a newbie blogger wannabe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s