David, Si Kecil Yang Mengalahkan Raksasa

Facing The Giants (2006)
Facing The Giants (2006)

Facing The Giants adalah salah satu film yang sering aku tonton. Berapa kalipun aku menontonnya aku selalu mendapatkan kekuatan yang baru dan dikuatkan kembali. Film yang menceritakan tentang kehidupan kristiani ini memiliki beberapa cerita dari masing-masing tokoh. Ada kalimat yang selalu menjadi favoritku.

Film ini menceritakan tentang klub American Football, Eagles Shilo, yang berjuang dalam keterpurukan mereka karena kekalahan selama 6 tahun berturut turut. Mereka menyadari ada yang salah yang menyebabkan mereka selalu kalah. Mereka mencoba membuat resolusi kembali dan memperbaiki sikap dan perilaku mereka sehingga sesuai dengan Firman Tuhan.

Dari beberapa tokoh, ada dua tokoh yang menarik perhatianku, yaitu Larry Childers dan anaknya David. Larry mengalami kelumpuhan dan harus berada di kursi roda. David adalah siswa baru, yang hanya bermain sepakbola di sekolahnya yang dulu. Masalahnya, hanya ada American Football di sekolahnya yang sekarang.

Walaupun Amerika dan Inggris sama-sama memiliki kata Football, tapi artinya sama sekali berbeda. Bila kita menggunakan “Football” di Inggris, itu mengacu pada Sepakbola. Sedangkan Football di Amerika berarti American Football. American Football memiliki permainan yang lebih keras daripada sekedar sepakbola. Pemain diizinkan untuk melakukan kontak fisik yang keras, seperti menabrak, menghalangi dan menjatuhkan lawan dimanapun itu.

Perbedaan lainnya, biasanya pemain sepakbola memiliki kemampuan yang merata, sementara pada American Football, setiap orang memiliki fungsinya masing-masing, sesuai dengan kemampuannya. Secara garis besar dibagi dalam tim-tim seperti tim pertahanan, penyerang dan penendang. Tim bertahan biasanya memiliki fisik yang tangguh dan kuat untuk merebut bola dari lawan. Sementara tim penyerang terdiri dari pelempar, penangkap bola dan pelari yang bertugas membawa bola sampai garis goal. Untuk bagian penyerang dan penendang sangat rentan untuk diserang dan dijatuhkan oleh tim pertahanan lawan.

Perawakan David kurus dan sangat sulit menghadapi kontak fisik apabila ditubruk oleh pemain lawan. Ketika ayahnya bertanya apakah dia akan bergabung dengan tim American Football sekolah, David memberikan begitu banyak alasan. Pertama dia berdalih bahwa tidak ada sepakbola di sekolahnya, ayahnya menjawab bahwa dia adalah penendang yang terbaik. David berkilah bahwa tim sudah memiliki penendang yang sangat bagus, ayahnya mengatakan tidak masalah jika tim memiliki 2 orang penendang terbaik. Dan terakhir David mengatakan bahwa dia terlalu kecil dan dia khawatir kalau dia akan gagal tes masuk ke dalam tim. Dengan dorongan ayahnya akhirnya David bergabung dengan tim American football sekolahnya.

David memerlukan waktu dalam menyesuaikan diri pada olahraga baru ini. Pada pertandingan perdananya, yang berakhir dengan kekalahan timnya, dia tidak dimainkan. Ketika ayahnya bertanya bagaimana perasaannya, David mengatakan bahwa tim telah memiliki orang yang lebih baik dan dia juga mengatakan bahwa dia tidak mungkin bisa lebih baik. Baginya, dia bersyukur jika dia tidak bermain, karena dia tidak ingin mempermalukan anggota tim.

Ayahnya dengan sabar mendukungnya. Dia menceritakan, ketika David lahir, ayahnya berdoa pada Tuhan agar menjadikan David anak yang kuat untuk menunjukkan betapa kuat-Nya Tuhan dalam kehidupannya dan melalui itu orang-orang akan berkata “Betapa baik dan kuatnya dia”. Tetapi David bertanya, lantas kenapa Tuhan memberikan dia tubuh yang kecil dan lemah. Dengan lembut ayahnya menjawab, untuk menunjukkan betapa besar dan berkuasa-Nya Tuhan dalam kehidupan David.

David sedikit demi sedikit bertambah kepercayaan dirinya, dan pada pertandingan terakhir, dengan dukungan ayahnya, melakukan tendangan yang tidak mungkin dilakukannya sehingga membuat timnya menang.

Sering kali kita bersikap seperti David. Kita memberikan begitu banyak alasan bahkan sebelum memulai hal yang ingin kita lakukan. Kita selalu berdalih bahwa kita tidak akan bisa melakukannya, mustahil dilakukan, ada orang lain yang lebih baik, mungkin ini bukan hal yang cocok buat aku atau alasan-alasan lain yang kita buat-buat, untuk menutupi ketakutan kita dan ketidakpercayaan diri kita.

Beruntung David memiliki ayahnya yang selalu mendukung dan memberikan semangat sehingga David memiliki keberanian untuk mencoba. Begitu juga dengan kita, akan ada orang-orang yang akan selalu mendukung kita, mungkin teman, saudara, orang tua atau guru kita, yang ditempatkan Tuhan untuk memberikan kekuatan pada kita.

Kita sering kali takut dan tidak yakin karena kita selalu bergantung kekuatan kita sendiri. Kita tidak percaya diri, karena pada dasarnya kita adalah manusia yang lemah. Kita tidak mengandalkan Tuhan dan selalu mencoba semuanya dengan kekuatan kita sendiri. Seperti yang ayah David katakan, Tuhan menjadikan kita kecil dan lemah untuk menunjukkan betapa Besar dan Berkuasa-Nya Dia dalam hidup kita, sehingga melalui kita banyak orang akan melihat Kuasa Tuhan.

Pada saat ini aku memiliki ketakutanku sendiri, tetapi aku diingatkan untuk tidak mengandalkan kekuatanku sendiri, Tuhan yang berkuasa penuh atas semua. Aku mungkin tidak percaya diri, tapi dengan percaya pada Tuhan, aku memperoleh kepercayaan diri. Dan kalian pasti memiliki ketakutan kalian sendiri. Ketakutan yang bagaikan raksasa yang siap menghancurkan kita kapan saja. Tapi raksasa-raksasa itu harus kita hadapi, karena jika kita lari, kita tidak akan pernah lepas darinya, kita tidak akan pernah maju.

Kita pasti juga tidak memiliki kemampuan atau hal-hal yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi karena keterbatasan kita. Tapi daripada menghabiskan waktu kita untuk meratapi apa yang tidak kita punyai, lebih baik kita pergunakan apa yang sudah ada pada kita dan berserah kepada Tuhan. Tuhan akan mengerjakan hal-hal yang kita tidak mampu, asalkan kita melakukan bagian kita sepenuh hati.

Jadi jika sekarang mungkin ada hal yang kita ingin lakukan, tapi kita takut untuk mencoba, kita akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan talenta-talenta baru. Kesempatan yang sama mungkin tidak akan terjadi dua kali. Ingatlah, setiap talenta yang diberikan akan kita pertanggungjawabkan kelak. Hari ini jika engkau ingin melakukan sesuatu dari dalam hatimu, lakukan itu. Mungkin engkau tidak cukup baik atau bahkan tidak tahu apa-apa sama sekali, tidak masalah. Tuhan melihat hati. Jika kita mau berusaha sebaik-baiknya, lihatlah kelak Dia akan menambahkannya menjadi talenta milik kita.

Advertisements

Published by

yonatha

I am a newbie blogger wannabe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s