What the….

Registration FormBukan tanpa alasan aku berminat untuk berkuliah di kampus yang tidak begitu terkenal ini… Tetanggaku menyekolahkan anaknya di kampus ini, dan diklaim merupakan salah satu universitas dengan jurusan TI terbaik se-Indonesia. Memang seperti orang jualan kecap no.1, yang dijual ya mesti no.1. Namun setelah pertama kali aku melihat kampus ini secara keseluruhan, aku mengambil keputusan untuk berkuliah di sini. Karena tempatnya tenang… karena tidak banyak mahasiswanya… atau mungkin lebih tepatnya tidak banyak mahasiswa yang tinggal pada libur panjang antar semester.

Ruang pendaftaran tes masuk terdapat dibagian utara kampus. Tidak hanya bagian dinding gedung yang didominasi coklat dan coklat muda,bahkan seluruh lantai pun dirangkai dari ubin coklat dan coklat muda.Ubin coklat muda tampak menjadi dasar dari lantai kampus,dengan kedua bagian kiri kanan dipadu ubin coklat,sekilas bila dilihat ubin coklat ini membentuk garis dan jalan yang memandu kita ke setiap ruang di kampus Utusan Cahaya ini.

Jika kita melihat dari jauh, gedung ini menggunakan gaya arsitektur yang cukup tua. Pintu-pintu kayu ukuran besar seolah menjadi petunjuk bahwa setidaknya kampus ini sudah berdiri sejak 50 tahun yang silam. Aku berhenti sejenak di depan ruangan dengan tulisan “HUMAS”, sepertinya di sinilah aku harus mengumpulkan formulir pendaftaran.

Ketika membuka pintu, aku melihat anak kampung tadi duduk di kursi yang ada di hadapan humas, sedang mendengarkan penjelasan dengan wajah bingung. Ketika humas menanyakan kepada anak itu tentang suatu pertanyaan,  anak itu melirik ke kiri kepada temannya, seakan-akan meminta penjelasan dan memohon pertolongan atas apa yang ditanyakan oleh Humas. Temannya kemudian merespon dengan menanyakan kepada anak itu tepat seperti apa yang dikatakan humas. Anak itu menjawab seperti berbisik kepada temannya, kemudian temannya mengulangi kembali jawaban anak itu kepada humas. Jadi yang aku lihat disini adalah seperti diskusi bilateral antara duta besar Mexico dan Indonesia yang memerlukan penerjemah.

Di samping mereka, duduk juga cewek berumur 17 tahunan, mengenakan t-shirt pink, ditemani oleh Ayahnya. Dia juga sedang mengembalikan formulir pendaftaran. Badannya sedikit berisi untuk cewek seumurannya dan dia mengenakan kacamata, dari penampilannya, aku menebak dia pasti memilih untuk masuk ke jurusan Theologia, yang juga ada di kampus ini. Sesekali dia melihat ke kanan, kepada anak itu. Dan tepat ketika mata mereka berdua bertemu, si cewektersenyum, sementara anak itu nampak melengos dan membuang muka ke arah sebaliknya. Si cewek tampak kesal dongkol setengah mati… Jangankan dia, aku yang melihatpun menjadi kesal… Terkadang kita memiliki orang-orang yang bila kita melihat wajahnya, kita menjadi kesal dan kepingin sekali menonjok muka orang itu.. Anak ini salah satunya… Tidak hanya tampak kebingungan dan kikuk, sekarang dia tampak seperti a j*rk…wah,wah…

Setelah menyerahkan formulir pendaftaran, anak itu berdiri dan meninggalkan ruangan Humas. Aku baru melihat dia dari dekat, berkacamata, tidak terlalu tinggi, celana kain hitam, dengan baju hem kotak ukuran besar, sehingga tampak dia seperti menggunakan sarung. Tampak dia cuek dengan penampilannya, atau juga tidak mengerti bagaimana mengatur penampilan. Well, mungkin aku akan bertemu dengan dia lagi dalam waktu dekat, ketika ujian masuk diadakan.

 

 

Advertisements

Published by

yonatha

I am a newbie blogger wannabe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s