Pilihan yang ga’ nyambung

test.pngHal paling canggung yang pernah aku rasakan adalah ketika pertama kali ada di suatu tempat, tanpa kenal dengan orang-orang sekitar. Semua perasaan campur aduk antara bosan, malu, salah tingkah, grogi… ah..parah deh… Untuk menghindari perasaan ini, aku biasanya memilih untuk berada di pojok, tempat dengan pandangan mata yang paling minimum. Dengan begitu setidaknya perasaan gado-gado itu sedikit reda dan aku juga bisa dengan lebih jelas memperhatikan orang-orang sekitarku, tanpa mereka sadari tentu saja.

Tinggal di pojok dan memperhatikan sudah menjadi kebiasaan, bahkan ketika aku harus ikut tes masuk universitas. Ada beberapa gelombang penerimaan di Universitas Utusan Cahaya, aku mengambil tes gelombang ke-3. Dari atrium kampus, aku naik ke lantai dua, ruangan sebelah utara kampus. Kursi-kursi di ruangan kuliah, sebagian ditumpuk di luar. Sebagian peserta tes memakainya untuk duduk-duduk. Seperti kebiasaan, aku memilih untuk berdiri santai di pojok ruangan, dimana aku bisa melihat taman kecil di bawah.

Tempat dimana aku berada sekarang tepat bersebrangan dengan ruangan humas yang telah aku datangi sebelumnya. Aku dengan leluasa dapat melihat lantai 3, orang-orang yang berjalan dari atrium, yang sedang naik turun tangga. Tempat ideal untuk mengintai…Nice :D.

Tanpa sengaja perhatianku tertuju pada sosok menyebalkan yang aku lihat beberapa hari yang lalu. Si Songong itu tampaknya juga ikut tes masuk di gelombang yang sama. Masih dengan penampilan yang sama; kacamata, kemeja lengan pendek kotak ukuran besar, celana kain hitam dan sepatu kets biru. Kali ini dia menyandang tas dengan satu tali tas di pundaknya, sementara tali yang lain dibiarkan tergerai.

Dengan langkah kikuk dia menaiki tangga menuju lantai 2. Dia berhenti sejenak dan melihat selembar kertas yang dibawanya di tangan kanannya. Setelah mengernyitkan kening, dia melihat ke arah kiri kemudian memutar pandangannya ke arah kanan, tempat aku berada. Dia melihat kertas tersebut untuk kedua kalinya, seakan tidak yakin dengan apa yang dia lihat sebelumnya. Jika aku bisa menebak, dia sedang mencari tempat ujian. Karena cukup banyak yang ikut tes kali ini, sehingga ruangan tesnya pun berbeda.

Kembali dia melihat ke arah tempatku berada, dengan langkah ragu-ragu dia berjalan menuju arahku. Aku yakin, aku tidak ada dalam pandangannya sama sekali… matanya hanya fokus ke arah ruangan tes, jadi dengan leluasa aku dapat memperhatikannya. Menjadi tidak kelihatan itu sangat menyebalkan… Kita merasa kita tidak diperdulikan.. dianggap ada pun tidak.. Melihat apa yang sudah terjadi sebelumnya, aku “maklum” bahwa Si Songong ini tidak peduli dengan sekitarnya… Bahkan dalam pikiranku terbesit bahwa dia ini sebenarnya anak yang anti-sosial.

Setelah melewatiku tanpa sedikitpun melirik aku, tergopoh-gopoh dia menuju pintu ruangan tes sambil membaca daftar peserta tes. Seakan tidak yakin dengan namanya sendiri, dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan tanda pengenal peserta. Tampak wajahnya sedikit lega dan saat ini dia mulai melirik kiri-kanan.. mencari kursi untuk duduk. Dia bergerak ke arah kursi kosong beberapa langkah di sebelah kiriku. Dan dia duduk di sebelah pemuda berusia sekitar 19-20 tahun.

Samar-samar aku dengar dia memulai percakapan dengan pemuda yang baru dia kenal itu. Di dalam hati aku sempat geli, membayangkan bahwa dalam sekejap pemuda ini akan merasakan pengalaman paling menyebalkan dalam hidupnya, bertemu dengan orang paling cuek dan menyebalkan dalam hidupnya… Mungkin aku sedikit cepat berprasangka.. tidak diduga mereka ngobrol cukup lama.

“Kamu ambil jurusan apa untuk tes?”, Pemuda itu bertanya.

“Pilihan pertama Biologi, yang kedua Arsitek”, Jawab Si Songong

“Lari banget ya pilihannya… 2 jurusan itu kan bertolak belakang..”, Timpal Jhon, nama si pemuda itu. Aku tahu karena tanpa sengaja mendengar namanya saat berkenalan, sedangkan nama si Songong ini aku tidak jelas mendengarnya.. karena dia berbicara seakan sedang kumur-kumur.

“Kalau biologi karena aku suka biologi… Aku pilih arsitek karena ada sepupuku sedang kuliah di jurusan itu, di kampus ini juga”, agak bengong juga aku mendengar alasan si Songong ini… Pilihannya sama sekali kaya ga nyambung… Sementara yang aku lihat Jhon cuma menganguk-angukan kepala.. antara sudah mengerti atau juga sama bingungnya dengan aku…

BTW.. Kenapa juga aku yang kepo… lagian aku kan cuma tidak sengaja mendengar percakapan mereka.. bahkan terlibat dalam percakapan pun tidak… Sebelum berpikir lebih jauh lagi, pengawas tes keluar dari ruangan dan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam ruangan. Sudah jelas, aku tidak punya waktu lagi untuk menganalisa perkataan-perkataan si Songong.. Aku jauh lebih tertarik untuk fokus dan  lulus tes masuk…

Advertisements

Published by

yonatha

I am a newbie blogger wannabe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s